Aplikasi Penilaian Kinerja Guru dan Tugas Tambahan
Cara Menyusun SKP Pengawas
b. PP No. 46 Tahun 2011 - Penilaian PK PNS
c. Mendiknas dan BKN - No. 01-III-PB-2011 & No.6 Tahun 2011 - Petunjuk Pelaksanaan Jafung
Pengawas
d. Perka BKN No. 1 Tahun 2013 - Penilaian PK PNS
e. Perka BKN No. 3 Tahun 2013 - Penilaian PK PNS
f. Panduan Penyusunan PP No. 46 Tahun 2011
II. Formulir I A (PP. No. 46 Tahun 2011 tentang Penilaian PK PNS) ( lihat contoh V)
III. Formulir I B (PP. No. 46 Tahun 2011 tentang Penilaian PK PNS) ( lihat contoh V)
IV Lihat Lampiran (MenpanRB No. 21 Tahun 2010 - Jafung PS & Lampiran 1-7) ( lihat I a)
V. Contoh Jadi Sasaran Kerja PNS (SKP) Pengawas
Program Rintisan Pendidikan Profesi Guru
Sebuah data mencatat bahwa fenomena yang terjadi saat ini adalah masih adanya disparitas guru yang sesuai dengan struktur kurikulum pada jenjang SMK. Struktur kurikulum yang menyangga proses pembelajaran di jenjang SMK terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok adiptif, kelompok normatif dan kelompok produktif. Kelompok Adiptif adalah mata pelajaran yang berfungsi untuk menyiapkan kemampuan dasar yang memiliki daya transfer terhadap semua mata pelajaran keahlian seperti Matematika, Fisika, Bahasa Inggris , Kimia, IPA dan Kewirausahaan. Kelompok mata pelajaran normatif menyiapkan para peserta didik yang memiliki kompetensi kepribadian sebagai manusia Indonesia, mata pelajaran yang masuk dalam katagori ini adalah Bahasa Indonesia, Pendidikan Jasmani, Sejarah Nasional dan Sejarah Umum, Pelajaran Agama serta Pendidikan Kewarganegaraan. Katagori terakhri adalah katagori mata pelajaran produktif. Mata pelajaran yang termasuk katagori ini adalah mempersiapkan peserta didik untuk memiliki keahlian yang handal dalam lebih dari 121 kompetensi keahlian. Kondisi hari ini menyebutkan bahwa tidak kurang dari 5.980 guru adiptif di butuhkan untuk mengisi kekurangan guru yang mengampu pembelajaran mata pelajaran yang dikatagorikan adiptif, sedangkan untuk mata pelajaran produktif tercatat memiliki kekurangan guru sebanyak 18.165 orang guru. Gambaran kekurangan guru kedua mata pelajaran ini berbanding terbalik dengan kondisi mata pelajaran normative, dimana terjadi kelebihan guru sebanyak 16.046 guru. Sebagai jenjang pendidikan yang mengutamakan pola pendidikan keterampilan, gambaran yang dipaparkan di atas tentunya bukan sesuatu yang menyenangkan, dan justru menyiratkan sebuah kondisi dimana proses pembelajaran di SMK lebih banyak diampu oleh guru yang belum memiliki latar belakang pendidikan keahlian.Program Rintisan PPGT Kolaboratif lahir atas kebutuhan tersebut. Program ini dilaksanakan melalui integrasi dan kolaborasi antara dua institusi (LPTK dengan Politeknik atau Universitas) dalam menjalankan program pendidikan profesi guru SMK Produktif yang pada umumnya tidak atau belum ada di LPTK dan bidang-bidang lain yang memiliki kebutuhan guru yang tinggi dilapangan sementara lulusan LPTK sendiri masih terbatas. Calon mahasiswa yang dibidik pada program ini adalah lulusan program S1 Kependidikan dan program S1/D-IV Non Kependidikan.
Model pelaksanaannya setelah lulus seleksi, calon harus mengikuti program Pendidikan Profesi Guru dalam dua semester. Semester pertama terdiri dari pendalaman bidang studi dan pendalaman bidang kependidikan serta Program workshop Pengembangan perangkat pembelajaran (PPP). Bagi peserta yang berasal dari S1 Kependidikan, sebelum mengikuti pelatihan PPP, harus mengikuti pendalaman materi bidang studi, sementara peserta yang berasa dari S1/D-IV Non-kependidikan harus mengikuti pendalaman bidang kependidikan. Pada semester kedua semua peserta wajib mengikuti program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di SMK untuk melatih kompetensi pembelajarannya. Hingga hari ini menurut Surat keputusan Dirjen Mandikdasmen, No.251/c/Kep/MM/2008 tentang Spektrum Keahlian Pendidikan Menengah Kejuruan, terdapat tidak kurang dari 121 jenis kompetensi keahlian yang dipelajari di jenjang pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan. Data tersebut tentunya menunjukan keragaman keahlian yang dapat dipersiapkan oleh SMK untuk menghasilkan lulusan yang terkompetensi pada jenis-jenis keahlian tersebut. Walaupun begitu pada kenyataannya kondisi saat ini, keragaman keahlian atau kompetensi ini tidak diimbangi dengan ketersedian guru atau para pendidik yang mumpuni dalam mengampu proses pembelajaran keahlian di jenjang pendidikan SMK tersebut. Rekrutmen bagi calon peserta PPG SMK Produktif tahun 2013 akan dimulai tanggal 24-30 Juni 2013, kesempatan ini dibuka seluas-luasnya bagi lulusan Sarjana (S1) dan Diploma Saintek (D4) dari berbagai program studi eligible untuk mendaftar, Klik Disini.
Bimtek Kurikulum 2013
Bagi teman-teman yang masih belum punya Aplikasi Pelaporan Pendampingan Kurikulum 2013 Online/Offilene, silahkan anda download beserta tutorialnya, disini :
1. Tutorial membuka aplikasi Offline, Klik Disini.
2. Download Aplikasi, Klik Disini.
Pergeseran Paradigma Belajar Abad 21
Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran Kontekstual
(Contextual Teaching Learning)
Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi menggingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan kehidupan jangka panjang. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual/Contextual Teaching Learning adalah mempraktikkan konsep belajar yang mengaitkan materi yang dipelajari dengan situasi dunia nyata siswa. Siswa secara bersama-sama membentuk suatu sistem yang memungkinkan mereka melihat makna di dalamnya.
Pembelajaran Kontekstual atau Contextual Teaching Learning (CTL) mengasumsikan bahwa secara natural pikiran mencari makna konteks sesuai dengan situasi nyata lingkungan seseorang melalui pencarian hubungan masuk akal dan bermanfaat. Melalui pemaduan materi yang dipelajari dengan pengalaman keseharian siswa akan menghasilkan dasar-dasar pengetahuan yang mendalam. Siswa akan mampu menggunakan pengetahuannya untuk menyelesaikan masalah-masalah baru dan belum pernah dihadapinya dengan peningkatan pengalaman dan pengetahuannya. Siswa diharapkan dapat membangun pengetahuannya yang akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan memadukan materi pelajaran yang telah diterimanya di sekolah.
Pembelajaran Kontekstual/Contextual Teaching Learning merupakan satu konsepsi pengajaran dan pembelajaran yang membantu guru mengaitkan bahan subjek yang dipelajari dengan situasi dunia sebenarnya dan memotivasikan pembelajar untuk membuat kaitan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan harian mereka sebagai ahli keluarga, warga masyarakat, dan pekerja.
Pembelajaran Kontekstual/Contextual Teaching Learning adalah sebuah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa siswa mampu menyerap pelajaran apabila mereka menangkap makna dalam materi akademis yang mereka terima, dan mereka menangkap makna dalam tugas-tugas sekolah jika mereka bisa mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya (Elaine B. Johnson, 2007:14).
Dalam Pembelajaran Kontekstual/Contextual Teaching Learning, ada delapan komponen yang harus ditempuh, yaitu: (1) Membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna, (2) melakukan pekerjaan yang berarti, (3) melakukan pembelajaran yang diatur sendiri, (4) bekerja sama, (5) berpikir kritis dan kreatif, (6) membantu individu untuk tumbuh dan berkembang, (7) mencapai standar yang tinggi, dan (8) menggunakan penilaian otentik (Elaine B. Johnson, 2007: 65-66).
Berdasarkan pengertian di atas dapat dijelaskan bahwa Pembelajaran Kontekstual/Contextual Teaching Learning adalah mempraktikkan konsep belajar yang mengaitkan materi yang dipelajari dengan situasi dunia nyata siswa. Siswa secara bersama-sama membentuk suatu sistem yang memungkinkan mereka melihat makna di dalamnya.
Pembelajaran Kontekstual/Contextual Teaching Learning merupakan konsep belajar yang membantu para guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru kepada siswa. Proses pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
Pembelajaran Kontekstual/Contextual Teaching Learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan meraka (Sanjaya, 2005:109).
Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus kita pahami. Pertama, pembelajaran Kontekstual/Contextual Teaching Learning menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi. Artinya, proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks Pembelajaran Kontekstual/Contextual Teaching Learning tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, tetapi yang diutamakan adalah proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
Kedua, pembelajaran Kontekstual/Contextual Teaching Learning mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata. Artinya, siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting sebab dengan dapat mengkorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, materi yang dipelajarinya itu akan bermakna secara fungsional dan tertanam erat dalam memori siswa sehingga tidak akan mudah terlupakan.
Ketiga, pembelajaran Kontekstual/Contextual Teaching Learning mendorong siswa untuk dapat menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan. Artinya, Pembelajaran Kontekstual/Contextual Teaching Learning tidak hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, tetapi bagaimana materi itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran dalam konteks Pembelajaran Kontekstual/Contextual Teaching Learning tidak untuk ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan, tetapi sebagai bekal bagi mereka dalam kehidupan nyata.
Terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan Kontekstual:
- Dalam Pembelajaran Kontekstual/Contextual Teaching Learning pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activing knowledge). Artinya, apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari. Dengan demikian, pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
- Pembelajaran yang kontekstual adalah pembelajaran dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahuan baru itu dapat diperoleh dengan cara deduktif. Artinya, pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan kemudian memperhatikan detailnya.
- Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge) berarti pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal, melainkan untuk dipahami dan diyakini.
- Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge). Artinya, pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata.
- Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.
Di sisi lain, Hernowo (2005:93) menawarkan langkah-langkah praktis menggunakan strategi pebelajaran Kontekstual/Contextual Teaching Learning.
- Kaitkan setiap mata pelajaran dengan seorang tokoh yang sukses dalam menerapkan mata pelajaran tersebut.
- Kisahkan terlebih dahulu riwayat hidup sang tokoh atau temukan cara-cara sukses yang ditempuh sang tokoh dalam menerapkan ilmu yang dimilikinya.
- Rumuskan dan tunjukkan manfaat yang jelas dan spesifik kepada anak didik berkaitan dengan ilmu (mata pelajaran) yang diajarkan kepada mereka.
- Upayakan agar ilmu-ilmu yang dipelajari di sekolah dapat memotivasi anak didik untuk mengulang dan mengaitkannya dengan kehidupan keseharian mereka.
- Berikan kebebasan kepada setiap anak didik untuk mengkonstruksi ilmu yang diterimanya secara subjektif sehingga anak didik dapat menemukan sendiri cara belajar alamiah yang cocok dengan dirinya.
- Galilah kekayaan emosi yang ada pada diri setiap anak didik dan biarkan mereka mengekspresikannya dengan bebas.
- Bimbing mereka untuk menggunakan emosi dalam setiap pembelajaran sehingga anak didik penuh arti (tidak sia-sia dalam belajar di sekolah).
Berdasarkan penjelasan di atas, berarti pendekatan kontekstual bertujuan membekali siswa dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan ke permasalahan lain dan dari satu konteks ke konteks lainnya. Dengan transfer diharapkan: (a) siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari ‘pemberian orang lain’; (b) keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sempit) sedikit demi sedikit; (c) penting bagi siswa tahu ‘untuk apa’ ia belajar, dan ‘bagaimana’ ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu.
Diambil dan adaptasi dari:
Endah Ariani Madusari, dkk. 2009. Metodologi Pembelajaran. Jakarta: Depdiknas
Pembelajaran Berdasarkan Masalah – Problem Based Learning
- Seorang lulusan tidak dapat menaggulangi masalah yang dihadapinya hanya dengan menggunakan satu disiplin ilmu. Ia harus mampu menggunakan dan memadukan ilmu-ilmu pengetahuan yang telah dipunyai atau mencari ilmu pengetahuan yang dibutuhkannya dalam rangka menanggulangi masalahnya. Melalui Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Learning) yang diawali dengan pemberian masalah pemicu kepada siswa dapat menerapkan suatu model pembelajaran secara spiral (spiral learning model) dengan memilih konsep dan prinsip yang terdapat dalam sejumlah cabang ilmu, sesuai kebutuhan masalah. Dengan diberi sejumlah masalah pemicu, diharapkan sebagian besar/seluruh materi cabang ilmu dicakup.
- Integrasi antara berbagai konsep/prinsip/informasi cabang ilmu dapat terjadi
- Kemampuan siswa untuk secara terus menerus melakukan “up-dating”/pengembangan pengetahuannya tercapai
- Perilaku sebagai seorang “ life long learner” dapat tercapai
- Langkah-langkah PBL yang dilaksanakan melalui diskusi kelompok dapat menghasilkan sejumlah keterampilan diantaranya: (a) keterampilan penelusuran kepustakaan; (b) keterampilan membaca; (c) keterampilan/kebiasaan membuat catatan; (d) kemampuan kerjasama dalam kelompok; (e) keterampilan berkomunikasi; (f) keterbukaan; (g) berpikir analitik; (h) kemandirian dan keaktifan belajar; dan (i) wawasan dan keterpaduan ilmu pengetahuan
- Dapat mengimbangi kecepatan informasi atau ilmu pengetahuan yang sangat cepat.
- Mengorientasikan siswa kepada masalah autentik dan menghindari pembelajaran terisolasi
- Berpusat pada siswa dalam jangka waktu lama
- Menciptakan pembelajaran interdisiplin,
- Penyelidikan masalah autentik yang terintegrasi dengan dunia nyata dan pengalaman praktis .
- Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya
- Mengajarkan kepada siswa untuk mampu menerapkan apa yang mereka pelajari di sekolah dalam kehidupannya yang panjang
- Pembelajaran terjadi pada kelompok kecil (kooperatif).
- Guru berperan sebagai fasilitator, motivator dan pembimbing.
- Masalah diformulasikan untuk memfokuskan dan merangsang pembelajaran
- Masalah adalah kendaraan untuk pengembangan keterampilan pemecahan masalah.
- Informasi baru diperoleh lewat belajar mandiri.
|
Langkah-langkah
|
Kegiatan
Guru
|
|
Orientasi
masalah
|
·
Menginformasikan tujuan pembelajaran
·
Menciptakan lingkungan kelas yang memungkinkan
terjadi pertukaran ide yang terbuka
·
Mengarahkan pada pertanyaan atau masalah
·
Mendorong siswa mengekspresikan ide-ide secara
terbuka
|
|
Mengorganisasikan
siswa untuk belajar
|
·
Membantu siswa menemukan konsep berdasar masalah
·
Mendorong keterbukaan, proses-proses demokrasi
dan cara belajar siswa aktif
·
Menguji pemahaman siswa atas konsep yang
ditemukan
|
|
Membantu
menyelidiki secara mandiri atau kelompok
|
·
Memberi kemudahan pengerjaan siswa dalam
mengerjakan/menyelesaikan masalah
·
Mendorong kerjasama dan penyelesaian tugas-tugas
·
Mendorong dialog, diskusi dengan teman
·
Membantu siswa mendefinisikan dan
mengorganisasikan tugas-tugas belajar yang berkaitan dengan masalah
·
Membantu siswa merumuskan hipotesis
·
Membantu siswa dalam memberikan solusi
|
|
Mengembangkan
dan menyajikan hasil kerja
|
·
Membimbing siswa mengerjakan lembar kegiatan
siswa (LKP)
·
Membimbing siswa menyajikan hasil kerja
|
|
Menganalisa
dan mengevaluasi hasil pemecahan
|
·
Membantu siswa mengkaji ulang hasil pemecahan
masalah
·
Memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemcahan
masalah
·
Mengevaluasi materi
|




















